Sesuatu tidak bisa menjadi besar jika tidak dimulai dari hal kecil. Itulah mengapa Presiden Joko Widodo berinisiasi untuk memajukan Indonesia yang dimulai dari daerah terkecil di Indonesia yakni pedesaan. Salah satu isi dari Nawacita Presiden Joko Widodo adalah: “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan”. Hal fundamental yang harus dilakukan untuk memperkuat desa adalah dengan memperkuat sektor ekonominya. Oleh karena itu, pemerintah berencana mengalokasikan dana sebesar 1,4 Milyar Rupiah untuk memperkuat perekonomian desa. Dengan ekonomi yang kuat, desa akan mampu mengembangkan dan memajukan daerahnya secara mandiri dengan tetap mendapat pengawasan dan pembinaan dari pemerintah pusat. Mengacu pada pengertian desa menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 yaitu: “Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah...
Pada awal tahun ajaran baru, seorang guru berdiri di depan murid-muridnya sambil memegang selembar uang 100 .000 rupiah . Dia mengatakan kepada murid-muridnya , “Angkat tangan jika kamu mau uang ini”. Seketika semua siswa satu kelas itu mengangkat tangan, lalu guru berkata, “Saya akan memberikan uang ini kepada satu orang, tetapi pertama-tama, saya akan melakukan ini…” Dia mengambil uang itu dan meremasnya, kemudian bertanya, “Siapa yang masih menginginkannya?” Semua siswa tetap tunjuk tangan, dengan sangat antusias . Guru kemudian menjatuhkan uang itu ke lantai, menginjak nya hingga kusut dan mengambilnya kembali. "Bagaimana kalau sekarang?" dia bertanya lagi. Tak satupun siswa yang tidak tunjuk tangan . Mimik wajah mereka terlihat kebingungan. “ Anak-anakku , saya harap kalian melihat pelajaran yang dapat kita petik . Tidak peduli apa yang saya lakukan terhadap uang ini, Anda tetap menginginkannya karena nilainya tetap sama. Meski kusut dan kotor, harganya teta...
Baru-baru ini Indonesia tengah digegerkan dengan pemberitaan mengenai tingkah para anak muda baik yang dilakukan siswa SD,SMP,SMA, hingga mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia. Aksi tersebut banyak tertangkap basa dan tengah marak di sosial media mengenai sikap “ jaman now” yang ditunjukkan mereka sebagai lambang eksistensi para generasi muda saat ini. Aksi-aksi yang ditunjukkan mereka berupa aksi berlebihan bahkan dianggap tidak senonoh hingga menjadi komentar publik. Seperti merayakan kelulusan sekolah dengan mencoret-coret pakaian mereka dan kemudian diunggah di akun sosial media mereka. Selain itu, masih banyak aksi-aksi aneh yang ditunjukkan mereka secara ekspresif dalam berbagai hal sehingga muncullah julukan “ Kids Jaman Now “. Julukan tersebut pertama kali dipaparkan oleh salah satu tokoh pendidikan anak yaitu Seto Mulyadi di akun facebook nya untuk mengungkapkan kesannya terhadap anak muda jaman sekarang. Karena hal tersebut, kemudian julukan tersebut kini marak ...
Indonesia merupakan sebuah negara dengan jumlah penduduk yang amat padat. Penduduk yang berada di Indonesia merupakan penduduk lokal maupun non lokal. Dengan banyaknya jumlah penduduk yang ada, mereka berfikir bahwa bahan pangan lokal tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga kebanyakan dari mereka lebih memilih bahan pangan yang siap saji, khususnya bahan pangan hasil impor. Mereka tidak menyadari bahaya dari bahan pangan impor, mereka hanya berfikir bahan pangan mana yang bisa disajikan dengan cepat dan praktis. Padahal jika ditinjau lebih dalam, bahan pangan hasil impor memiliki banyak dampak terhadap kesehatan. Baik dari bahan pengawet, pewarna, penyedap, dan sebagainya yang bisa menghancurkan kondisi fisik masyarakat Indonesia. Salah satu dampak yang dirasakan masyarakat Indonesia yaitu banyaknya masyarakat yang menderita penyakit asam lambung. Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi tubuh seseorang yang ditandai dengan nyeri ...
Bagi kamu yang sedang mencari contoh PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) terbaru , silahkan pilih salah satu atau seluruh contoh PKM berikut: 1. KLIK DISINI Untuk Men-download/mengunduh 2. KLIK DISINI Untuk Men-download/mengunduh
Seperti yang kita ketahui, tahap anak-anak adalah tahap di mana manusia lebih banyak mempelajari lingkungan sekitarnya lewat bermain dan hiburan. Dewasa ini, hiburan jenis apapun sangat mudah kita temui, seperti : televisi, film, internet, dan sebagainya. Belakangan ini beredar luas istilah “kids jaman now” atau jika diartikan ke Bahasa Indonesia kurang lebih adalah “anak jaman sekarang”. Istilah ini begitu populer, mengindikasikan bahwa generasi muda, anak-anak penerus bangsa kita banyak yang moralnya sudah mulai rusak. Salah satu penyebabnya adalah hiburan yang selama ini menjadi konsumsi anak setiap harinya mengandung unsur negatif (kurang pantas untuk ditiru), apalagi mengingat mereka masih sangat kental dengan sifat peniru dan rasa ingin tahu. Anak - anak adalah aset bangsa yang sangat berharga, di tangan merekalah masa depan bangsa kita berada. Menyadari hal itulah, dalam esai ini saya akan memaparkan tentang masalah rusaknya atau dekadensi moral pada ana...
Suatu ketika seorang profesor psikologi sedang mengajarkan prinsip-prinsip manajemen stres di sebuah auditorium yang dipenuhi oleh mahasiswa. Saat dia mengangkat segelas air, para mahasiswa mengira mereka akan ditanyai pertanyaan klasik, “gelas setengah kosong atau gelas setengah penuh”. Namun, sang professor dengan senyuman di wajahnya malah bertanya, “Berapa berat segelas air yang saya pegang ini?” Mahasiswa memberikan jawaban ngasal, mulai dari delapan ons, 15 ons, hingga 20 ons. Dia menjawab, “Dari sudut pandang saya, berat absolut gelas ini tidaklah masalah. Itu semua tergantung berapa lama saya memegangnya. Kalau saya pegang satu atau dua menit, cukup sakit. Jika saya memegangnya selama satu jam berturut-turut, beratnya mungkin akan membuat lengan saya sedikit keram.” Baca Juga: Nelayan Desa dan Seorang Pakar Bisnis “Jika saya memegangnya selama sehari berturut-turut, lengan saya kemungkinan besar akan kram dan mati rasa, sehingga memaksa saya menjatuhkan...
Suatu ketika ada seorang pengusaha yang sedang duduk di pantai di sebuah desa kecil di Jogja. Saat dia duduk, beristirahat sejenak dari padatnya jadwal sehari-hari, dia melihat seorang nelayan mendayung perahu kecil kembali ke pelabuhan. Di dalam perahu ada beberapa ikan besar. Pengusaha tersebut heran dan bertanya kepada nelayan tersebut, “Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk menangkap ikan sebanyak itu?” Dan dia menjawab, “Oh, tidak terlalu lama.” Pengusaha itu bingung, “Mengapa kamu tidak memancing lebih lama agar dapat menangkap lebih banyak lagi?” "Lagi? Ini cukup untuk memberi makan seluruh keluarga saya dan bahkan memberikan sebagian kepada tetangga saya,” kata nelayan tersebut. “Jadi, apa yang kamu lakukan sepanjang harimu?” tanya pengusaha itu. Nelayan itu menjawab, “Ya, saya biasanya setelah menangkap ikan pada pagi hari, saya pulang, cerita dengan istri saya, dan bermain dengan anak-anak saya. Di sore hari, saya tidur siang dan membaca. Di malam hari...
Masihkah anda ingat rumus luas lingkaran yang anda pelajari saat kelas 6 SD? Masihkah anda ingat zat apa yang menyebabkan warna hijau pada daun yang anda pelajari saat kelas 5 SD? Tentu kita semua telah melupakannya karena kita tidak pernah menggunakan pengetahuan tersebut seumur hidup kita. Tetapi hal-hal demikian kita pelajari sepanjang SD, SMP, dan SMA. Sesuatu yang tidak pernah kita butuhkan dalam hidup kita namun kita berusaha keras mengejar pengetahuan tersebut dan berharap pengetahuan tersebut dapat membawa kepada kesukesan. Menurut saya ini adalah hal yang ironis, kita mempelajari sesuatu yang tidak berguna kemudian berharap dengannya hidup akan lebih baik. Dunia berubah, cara berfikir pun juga harus berubah, disini penulis memaparkan bagaimana memberikan metode-metode yang tepat dalam pembelajaran se-yogyanya, dengan hal tersebut kita dapat mengubah hal yang sulit menjadi hal yang lebih mudah yang nyatanya terdapat pada subjek-subjek pelajaran di sekolah baik u...
Untuk menjadi konten kreator di Facebook, jumlah pengikut memang cukup berpengaruh, meskipun bukan kunci. Banyak konten kreator bahkan "mengemis" agar diikuti atau di- follow dengan iming-iming di follow balik. Jika semua kerjasama, bisa jadi tercapai 5000 atau bahkan lebih, Namun, setelah itu apa? Sudah selesai? Bagaimana selanjutnya? Pernahkah anda mengikuti suatu akun tanpa dimintai untuk mengikuti? Jika pernah, coba jelaskan kenapa? Apakah karena anda suka dengan kontennya? Apakah karena tidak mau ketinggalan informasi atau konten terbarunya? Bisa jadi alasan diatas atau mungkin ada alasan-alasan lain. Lalu, kenapa harus dia yang anda ikuti? Bukankah ada konten kreator yang serupa tak sama? Salah satu teori menyebutkan bahwa hal ini didasari oleh keinginan dari seseorang atau anda untuk sekedar mengetahui atau belajar dari cerita, pengalaman, pengetahuan, atau bahkan perasaan dari seseorang atau suatu kelompok. Baca Juga: Marak Penipuan, Begini Cara Mengetah...
Comments
Post a Comment